Kisah Tukang Sapu, Belajar Hidup Dari Daun Dan Uang Rp 35 Ribu




Sore kemarin cuaca di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan nampak terlihat mendung dan akan segera turun hujan. Dengan bergegas, seorang wanita paruh baya berpakaian orange segera menuntaskan pekerjaannya membersihkan sampah daun dengan menggunakan sapu lidi dan pengki untuk dimasukkan ke dalam karung.

Sedikit terburu-buru, ia menuntaskan pekerjaannya karena tetes air petanda hujan perlahan mulai jatuh tepat di atas kepalanya. Bergegas ia pun menenteng karung, pengki dan sapu kemudian berlindung menuju sebuah halte dari rintikan hujan yang deras secara tiba-tiba.

Sadiyah (48) nama wanita itu, dia adalah pekerja kontrak Dinas Kebersihan Jakarta Selatan yang memang ditugasi untuk membersihkan sampah sekaligus menyapu jalan di seputar Jalan Raya Ragunan, mulai dari perempatan Jati Padang hingga Balai pertanian dekat Polsek Pasar Minggu.

Terik matahari dan guyuran hujan tidak membuat Sadiyah (48) patah arang untuk mengais rezeki menghidupi anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan membantu memutar roda perekenomian keluarga.

"Saya sudah dua tahun bekerja jadi tukang sapu, awalnya di rumah tapi saya berniat membantu suami saya," kata Sadiyah saat ditemui di halte depan SMA Negeri 28, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3).

Pengalaman hidup begitu berarti untuk ibu dari 5 anak itu. Sadiyah menuturkan, pekerjaan yang ia lakoni memang baru sekitar 2 tahun ia jalani. Dahulu, Sadiyah hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Namun, berkat bantuan sang suami Mazar (53) yang juga bekerja sebagai tukang sapu, Sadiyah kemudian melamar pekerjaan sebagai tukang sapu untuk membantu perekonomian keluarga serta membiayai anaknya yang masih sekolah.

Kebetulan saat itu, perusahaan tenaga kerja tempat ia bernaung saat ini membutuhkan tukang sapu untuk membersihkan sepanjang Jalan Raya Ragunan yang bersedia bekerja sejak pukul 13.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB membersihkan sampah daun atau sampah non organik yang berserakan di pinggir jalan atau sengaja dibuang orang yang tidak bertanggung jawab.

"Awalnya saya di rumah, saya coba melamar berkat bantuan suami saya kerja hingga saat ini. Waktu itu memang perusahaan butuh pegawai yang bisa masuk siang," ujarnya.

Daun, sampah plastik, kuman dan kotor merupakan sahabat Sadiyah setiap hari. Sadiyah mengatakan, bahwa ia bersyukur menjalani pekerjaan seperti saat ini. Meski pendapatannya boleh dibilang kecil dibanding dengan tenaga yang ia keluarkan, namun Sadiyah tetap iklas menjalani prosesi hidup sebagai tukang sapu.

Sebulan jika Sadiyah masuk setiap hari, gaji yang ia terima sebesar Rp 1.050.000 perhari gaji Sadiyah dibayar Rp 35 ribu tanpa uang makan atau uang lembur. Jika tidak masuk, uang tersebut akan dipotong dengan jumlah hari absen dirinya tidak bekerja. Meski begitu, ada saja orang yang dengan ikhlas memberikan bantuan kepadanya saat ia sedang menyapu jalanan.

"Ya alhamdulilah ada aja, untuk suka duka paling kalau lagi nyapu ada orang titip sampah," ucapnya.

Meski hidup begitu keras, namun Sadiyah coba menjalani dengan sabar dan ikhlas. Dia mengatakan, meski harus menyapu sampah dedaunan pohon yang ada dipinggir jalan, menurutnya itu adalah rezeki. Tuhan menjatuhkan daun ke jalan dan disapu untuk mendapatkan sekadar rupiah penyambung hidup.

Sore menjelang, Sadiyah dengan sesegera mungkin menuntaskan pekerjaannya. Tak lupa, kawan setia sapu lidi dan pengki yang terbuat dari kaleng biskuit serta karung ia titipkan di Taman dekat dia bekerja sehari-hari. Taman tersebut merupakan kantor alam untuk Sadiyah beristirahat maupun mengisi tenaganya dengan butiran nasi.

"Kalau dibilang kurang, manusia pasti akan kurang terus, ya kita cukup-cukupi," ujarnya.

Usai bekerja, Sadiyah tidak lupa untuk beristirahat untuk pagi esok mengurusi keluarga menggantikan suaminya Mazar yang bekerja pagi hari. Menjelang siang hari sekitar pukul 12.30 WIB, Sadiyah kembali bergulat dengan sampah
.


Follow On Twitter